Oct 14, 2013

Teman Tapi Asing

Bila anda berkunjung ke café, cobalah perhatikan anomali ini. Hampir pasti selalu saja ada sekelompok orang yang duduk semeja tapi tidak banyak interaksi di antara mereka. Mereka malah sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Seolah-olah isi dari benda pintar nan kecil yang dipegangnya itu jauh lebih menarik dari keberadaan orang-orang di sekitarnya. Tapi uniknya, ketika hendak pulang tak lupa mereka berfoto-foto. Sepertinya momen foto-foto itu adalah momen paling hangat dari berjam-jam yang telah mereka lewati dalam "keheningan".

lantas buat apa mereka berkumpul kalau kemudian sibuk dengan gadgetnya? Buat apa mereka hangout kalau sedikit sekali interaksi di antara mereka ?

Bisa disebut berteman ketika mereka bisa saling ngobrol dan tertawa. Sesederhana dan semudah itu. Dan bila terdapat kepedulian di antara mereka, jadilah mereka bersahabat.

Nah jadi mereka sebenarnya berteman gak ya?

Mungkin iya berteman...tapi asing. Oxymoron!

Oct 12, 2013

Kembali Ngeblog !

Ikatlah ilmu dengan menulisakannya (Ali bin Abi Tholib)

Sudah seharian ini gua berkutat pada kode-kode html dalam rangka rebuilding blog ini. Tapi setelah gua pikir-pikir, untuk memudahkan proses rebuilding, gua mesti nulis dulu deh sebanyak mungkin. Here we go.

Sejak dulu gua ingin punya blog yang bagus. Bagus dalam arti isi maupun tampilannya. Untuk membuat tampilan blog yang bagus, sebagai web developer gua menguasai itu. Tapi untuk membuat tulisan –yang enak dibaca- gua masih belajar.

Bagi gua, selain untuk bersenang-senang, hidup itu harus menjadi berkah bagi orang lain. Hidup harus memberikan manfaat kepada sesama. Karena itulah gua kembali ngeblog. Dengan harapan gua bisa berbagi ilmu melalui blog ini. Dan tentunya juga untuk meningkatkan kemampuan menulis gua.

Rencananya sih gua akan menulis seputar web development dan menulis tutorial beberapa bahasa pemrograman. Supaya gak terlalu serius, gua juga akan ngeblog tentang pengalaman-pengalaman personal yang mungkin menarik untuk ditulis.

Sep 6, 2012

Suatu Masa




Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan.
Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik tapi tak berakal..
Ada orang berakal tapi tak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai
Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.
Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat
Dan ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat
Dan ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

Ada yg berlisan bijak tapi tak memberi teladan
Dan ada pelacur yang tampil jadi figur

Dan ada yang berakhlak tapi tak bertuhan.

Lalu di antara semua itu di mana aku berada?
Wa Allaah a'lam bishshawaab...
(Ali bin Abi Thalib)

Aug 3, 2012

Atas Nama Sesama Manusia

Ketua MUI, Ma'ruf amin mengatakan bahwa jangan mengaku orang islam bila tidak memilih orang islam lainnya (Tempo, 29 juli). Hal itu dikatakannya dalam kampanyenya mendukung pasangan cagub Fauzi Bowo-Nahrowi yg bersaing melawan pasangan Jokowi-Ahok.



Ucapan ketua MUI tersebut sangat disayangkan. Secara implisit Ma'ruf Amin mengatakan bahwa orang yang memilih Jokowi adalah orang yg tidak boleh mengaku islam. Dengan kata lain, keislamannya dipertanyakan. Padahal, menilai keislaman seseorang bukanlah perkara main-main.



Saya teringat sebuah kisah Rasulullah yang menegur seorang sahabat. Setelah pulang dari peperangan, seorang sahabat datang melapor kepada Rasulullah. "Ya Rasullulah, aku bertemu seorang kafir yg bersyahadat. Namun aku tak percaya lalu aku bunuh. Aku pikir ia berpura2". Kemudian Rasulullah menjawab, "Apakah kau sudah membelah dadanya sehingga kamu tahu ia berbohong atau tidak?".



Dari kisah tersebut, terlihat jelas bahwa Rasulullah yang maha bijaksana sangat hati-hati dalam menilai keislaman seseorang. Tidak seperti Ketua MUI itu, yang mengukur keislaman seseorang dengan mendikotomikan memilih jokowi = bukan islam. Jauh lebih parah dari perilaku sahabat yang berpikiran negatif itu.



Coba kita bayangkan apa jadinya dunia ini bila semua orang berpikiran sempit seperti Ma'ruf Amin. Saya rasa dunia ini akan menjadi tempat yang tidak nyaman lagi. Hidup kita akan dibatasi oleh batasan-batasan yg justru membuat kita jauh dari nilai2 kemanusiaan. Membantu harus seagama. Berteman harus seagama. Apa kita ingin hidup seperti ini? Apa kita akan bertanya dulu apa agamanya kepada korban kecelakaan yang sekarat yang butuh pertolongan secepatnya???



Hidup kita hanya sebentar kawan. Apa baiknya hidup dengan berpikiran negatif seperti sahabat nabi tersebut? atau hidup dengan batasan2 yg menjauhi kita dari nilai kemanusian? Lebih baik kita bergandeng tangan tanpa melihat perbedaan agama apalagi suku, berdiri dan saling membantu atas nama sesama manusia :)

Jun 30, 2010

Doa Mesut Ozil Untuk Timnas Indonesia



Ya Allah..
Semoga Timnas Indonesia suatu saat nanti bisa bermain di Piala dunia
Tapi bukan karena menjadi Tuan Rumah, namun karena Prestasinya
Doaku untuk Indonesia
Amien...

Mar 26, 2010

Balada Dubur

Dalam sebuah konvensi organisme tubuh, tiap bagian tubuh diminta menjelaskan kinerjanya masing-masing.

Mata merasa paling berjasa. Ia mengatakan kalau tak ada saya kalian akan tersesat.

Kemudian Otak pun protes, "kalau tak ada saya kalian tak akan bisa bekerja". Begitu pula organ tubuh lain yang saling menunjukkan kehebatannya.

Namun kecuali Dubur yang pada saat itu pergi meninggalkan konvensi karena tersinggung akan hinaan organ lain. Teman-temannya menganggap bahwa dubur hanyalah tempat pembuangan, kotor dan sangat rendah.


Seiring waktu berjalan, ternyata ketiadaan dubur membuat mereka tak berfungsi seperti sedia kala. Kepala menjadi pusing, perut kembung, berbagai macam penyakit pun berdatangan!

Ah bisa saja balada dubur ini, benar-benar teladan yg baik. Salam!